Minggu-minggu terakhir ini, industri minyak bumi, baik eksplorasi
maupun pengolahan, sedang mengalami kelesuan. Turunnya harga minyak
mentah secara tajam & signifikan memberikan pengaruh yang sangat
besar bagi seluruh pemain yang ada di industri ini. Bagi oil operating company,
ini berarti mereka harus meninjau kembali seluruh rencana investasi
perusahaan dan menyusun ulang skala prioritas. Salah satu akibatnya
adalah terhentinya kegiatan eksplorasi dan rencana pengembangan produksi
perusahaan. Beberapa company bahkan sudah melakukan retrukturisasi perusahaan untuk menurunkan beban biaya operasional.
Bagi drilling company, hal ini praktis menyebabkan terganggunya operasional perusahaan yang berakibat langsung pada income & cash-flow. Sebagai perusahaan yang core business-nya adalah penyedia jasa eksplorasi, menurunnya permintaan jasa eksplorasi dari oil operating company akan mengakibatkan menurunnya pendapatan dan perumahan ribuan pekerjanya.
Di lain hal, seluruh lini pendukung industri minyak bumi semisal, engineering consultant, construction company, supply chain, vendor, dsb. juga akan terpengaruh seiring dengan penundaan proyek & rencana investasi oleh oil operating company. Ribuan orang terancam kehilangan pekerjaannya sebagai akibat tidak langsung dari penurunan harga minyak mentah.
Lantas, apa yang menyebabkan harga minyak mentah jatuh hingga ke titik terendah dalam periode 5-6 tahun terakhir ini ?
Secara prinsip, harga minyak mentah selalu mengikuti hukum ekonomi: supply & demand.
Menurunnya harga minyak mentah saat ini disebabkan menurunnya
permintaan akan sumber energi di China & Eropa, dan juga
meningkatnya ketersediaan sumber energi di AS.
Seperti yang sudah
saya bahas dalam tulisan saya sebelumnya, AS, China, dan Eropa adalah
tiga negara/kawasan yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap
perekonomian dunia, sekaligus memiliki ketergantungan yang sangat besar
terhadap sumber energi untuk menghidupkan roda industri &
perekonomian mereka. Dalam relevansinya dengan situasi saat ini, China
& Eropa sedang mengalami perlambatan ekonomi dan menurunnya
aktivitas industri, dan AS sedang mengalami booming tight oil, atau yang sering juga dikenal kebanyakan orang sebagai sebagai shale oil.
Tight Oil,
secara definisi adalah minyak bumi yang terjebak dalam lapisan bebatuan
yang memiliki permeabilitas (tingkat penyerapan) rendah, yakni lapisan
batuan sedimen (shale) dan batuan pasir (sandstone).
*Catatan:
Tight oil, oil shale, dan shale oil adalah tiga terminologi yang
berbeda. Tight Oil adalah seperti didefinisikan di atas, sedangkan oil
shale adalah lapisan batuan sedimen kaya organik yang mengandung
kerogen, yakni senyawa kimia organik yang terkandung di dalam batuan
sedimen, dimana jika batuan tersebut dipanaskan dengan suhu tertentu
akan melepaskan (release) cairan minyak dan natural gas. Shale oil
adalah istilah untuk minyak yang dihasilkan dari lapisan oil shale
tersebut.
Seringkali orang membenturkan istilah tight oil
dengan shale oil. Merujuk kepada pokok permasalahan terkait penurunan
harga minyak bumi, terminologi yang tepat adalah tight oil (selanjutnya
akan digunakan seterusnya dalam tulisan ini).
Tight oil
termasuk ke dalam kategori minyak bumi non-konvensional, dimana cara
penambangannya tidak menggunakan cara sebagaimana pengeboran minyak bumi
konvensional (pengeboran langsung ke dalam oil reservoir, dan mengeluarkannya dengan memanfaatkan tekanan alami dari oil reservoir maupun pumping). Posisi tight oil
yang terjebak di lapisan batuan yang memiliki permeabilitas rendah
menyebabkan kesulitan tersendiri untuk mengeluarkan minyak tersebut ke
permukaan.
Di dalam teknologi penambangan minyak bumi non-konvensional dikenal istilah fracking. Fracking adalah kependekan dari hydraulic fracturing,
yakni suatu proses dimana campuran air, pasir, dan cairan kimia
tertentu diinjeksikan dengan tekanan sangat tinggi ke dalam tanah
(dimana tight oil berada), untuk memecahkan lapisan batuan dan melepaskan (release) minyak dan gas yang terjebak di dalamnya.
Ilustrasi fracking bisa dilihat di gambar berikut:
![]() |
| Ilustrasi pengeboran dengan teknologi fracking |
Fracking dilakukan dengan cara melakukan pengeboran ke dalam lapisan lapisan yang kaya akan tight oil (lapisan oil rich shale). Kedalaman lapisan oil rich shale ini bisa mencapai hingga 5000 feet (1525 meter). Sumur bor dilapisi dengan steel casing untuk mencegah kontaminasi ke dalam air tanah (groundwater). Ketika pengeboran sudah mencapai lapisan oil rich shale, pengeboran akan dibelokkan ke arah horizontal sepanjang kurang lebih 1 mile (1600 meter).
Selanjutnya, semacam 'perforated gun'
yang dilengkapi dengan bahan peledak dimasukkan ke dalam dasar sumur
bor yang ketika diledakkan akan membuat retakan-retakan kecil dalam
lapisan oil rich shale. Kemudian fluida campuran air-pasir-bahan
kimia diinjeksikan ke dalam sumur bor dengan tekanan yang sangat tinggi.
Tekanan tinggi tersebut akan memperbesar retakan, dan pasir akan
menahan retakan tersebut tetap terbuka lebar. Bahan kimia yang
diinjeksikan akan membantu mengeluarkan minyak (ataupun gas) dari
lapisan oil rich shale tersebut.
Air dan bahan kimia yang
telah diinjeksikan ke dalam sumur bor akan dipompa kembali ke permukaan
untuk selanjutnya dibuang atau diolah lebih lanjut (disposal treatment). Minyak dan gas yang telah 'terbebas' dari kemudian akan ikut mengalir ke permukaan yang selanjutnya akan dialirkan melalui pipeline untuk pengolahan lebih lanjut.
Teknologi fracking
bukanlah merupakan teknologi baru. Beberapa perusahaan telah
menggunakan teknologi ini untuk mengekstrak minyak dan gas dari formasi
batuan yang sukar dieksploitasi. Halliburton pertamakali menggunakan teknologi fracking di tahun 1949 untuk meningkatkan kapasitas aliran gas dari sumur.
Meskipun demikian, teknologi fracking ini tidak populer dikarenakan biaya investasi-nya yang sangat tinggi. Pengeboran sumur tight oil
dapat menelan biaya hingga 7-10 juta dollar AS per sumur (sebagai
perbandingan, pengeboran minyak konvensional membutuhkan biaya rata-rata
sekitar 4 juta dollar AS). Biaya yang sedemikian besar disebabkan oleh
karakteristik dari tight oil tersebut. Dalam pengeboran minyak konvensional, oil reservoir memiliki tekanan alami yang memudahkan minyak diangkat ke permukaan tanah secara kontinyu dengan sendirinya tanpa ada metode tambahan. Pumping,
dan atau metode lain (injeksi bahan kimia, dsb.) hanya akan diperlukan
jika tekanan alami sudah berkurang dan tidak cukup kuat untuk mengangkat
minyak ke permukaan tanah.
Proses fracking memerlukan injeksi tekanan secara berulang-ulang untuk dapat memecahkan lapisan batuan dan melepaskan tight oil. Proses injeksi harus dilakukan berulang-ulang karena tight oil tidak membentuk suatu reservoir. Semakin banyak repetisi, maka akan semakin besar pula biaya yang dibutuhkan untuk memproduksi tight oil.
Material
yang digunakan untuk melakukan injeksi (pasir, air, bahan kimia, dsb.)
juga diperlukan dalam jumlah besar. Selain itu, faktor community impact, seperti kerusakan lingkungan & prasarana akibat aktivitas pengeboran, hingga environmental risk
seperti terlepasnya beberapa zat kimia berbahaya dari dalam tanah ke
udara bebas juga memiliki peran besar dalam memperbesar biaya
keseluruhan untuk melakukan proses fracking.
Yang menjadi
pertanyaan selanjutnya adalah jika teknologi fracking sudah dikenal lama
dan memerlukan biaya investasi yang tinggi, kenapa teknologi tersebut
menjadi populer akhir-akhir ini ?
Jawabannya adalah harga minyak bumi.
Periode
2009-2014 adalah periode emas bagi dunia eksplorasi minyak bumi seiring
dengan meroketnya harga minyak dunia hingga menembus 140 Dollar AS per
barel. Tingginya harga minyak membawa keuntungan besar bagi para
produsen minyak, dan memberikan keleluasaan bagi mereka untuk melakukan
kegiatan investasi & eksplorasi secara masif. Tingginya harga minyak
juga membuka kemungkinan untuk melakukan eksplorasi dengan teknologi
mahal (seperti fracking) dimana sebelumnya hal tersebut sulit dilakukan karena tidak ekonomis, terutama di AS dimana kebutuhan akan energy resources sangat tinggi dan disana terdapat cadangan tight oil terbesar kedua di dunia.
Tidak ada data resmi mengenai biaya produksi per barel (oil production cost per barrel), namun dari sumber Rystad Energy, Morgan Stanley Research, diperkirakan biaya produksi untuk tight oil di region Amerika Serikat berada di kisaran 55-80 dollar AS/barel (bandingkan dengan biaya rata-rata produksi minyak konvensional di region yang sama sebesar 30-50 dollar AS/barel).
Tingginya harga minyak dunia menyebabkan tight oil (shale) booming di AS. Dari data yang diperoleh dari www.eia.gov, selama periode 2009 - 2013 terjadi peningkatan produksi minyak bumi di AS sebesar kurang lebih 4 juta barel per hari (atau kenaikan sebesar 44% dari total produksi mereka di tahun 2008). Kenaikan produksi dalam negeri memberikan pasokan berlimpah terhadap kebutuhan domestik AS. Meskipun tingkat produksi tersebut belum mampu mencukupi seluruh kebutuhan energi mereka, akan tetapi banyak pengamat memperkirakan jika trend ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin bahwa pada akhirnya AS akan menjadi negara net-exporter minyak bumi pasca 2020.
Meningkatnya produksi minyak dalam negeri AS bukanlah satu-satunya penyebab turunnya harga minyak secara global. Penurunan harga minyak dipengaruhi oleh melambatnya ekonomi Eropa dan juga menurunnya permintaan minyak di China. Semenjak September 2014, harga minyak turun secara tajam hingga mencapai level terendah 44 Dollar AS per barel (WTI Price).
Banyak pengamat memperkirakan bahwa OPEC akan merespons pasar dengan menurunkan produksinya untuk membantu mengembalikan harga minyak. Akan tetapi dalam pertemuan OPEC bulan November 2014, Arab Saudi sebagai produsen minyak terbesar di dunia berkeras untuk mempertahankan pasar & menolak untuk menurunkan produksinya. Langkah ini menyebabkan harga minyak terjun bebas, dan menyebabkan gejolak perdagangan minyak dunia. Lebih jauh lagi, anjloknya harga minyak menyebabkan defisit APBN negara-negara eksportir minyak (seperti Rusia & Venezuela) dimana minyak bumi menjadi komoditi utama sekaligus penyumbang pendapatan negara terbesar.
Langkah Arab Saudi memang mendapat tentangan keras dari negara-negara OPEC. Namun jika menilik peristiwa serupa di dekade 80an, tatkala harga minyak bumi juga jatuh di level terendah, hal tersebut cukup beralasan. Pada dekade tersebut, harga minyak jatuh di titik terendah dari harga normal sebesar 35 Dollar AS per barel hingga mencapai di bawah 10 Dollar AS per barel. Arab Saudi berupaya mengembalikan harga minyak dengan cara memangkas produksi hingga tersisa 1/4 bagian dari produksi normal mereka. Akan tetapi pada akhirnya yang terjadi adalah harga tetap jatuh dan Arab Saudi kehilangan pangsa pasar.
Berdasar pengalaman tersebut, Arab Saudi merubah strategi mereka dengan tetap mempertahankan produksi rata-rata dengan harapan jatuhnya harga minyak akan menyebabkan produksi tight oil menjadi tidak ekonomis dan bangkrutnya perusahaan yang beregerak di bidang ekplorasi & produksi tight oil.
Di sisi lain, publik AS sendiri saat ini menikmati murahnya harga minyak (mengingat tingginya konsumsi & tingkat impor AS), sekaligus menyaksikan krisis ekonomi melanda negara-negara musuh ideologi mereka: Rusia, Venezuela, dan Iran.
Meningkatnya produksi minyak dalam negeri AS bukanlah satu-satunya penyebab turunnya harga minyak secara global. Penurunan harga minyak dipengaruhi oleh melambatnya ekonomi Eropa dan juga menurunnya permintaan minyak di China. Semenjak September 2014, harga minyak turun secara tajam hingga mencapai level terendah 44 Dollar AS per barel (WTI Price).
Banyak pengamat memperkirakan bahwa OPEC akan merespons pasar dengan menurunkan produksinya untuk membantu mengembalikan harga minyak. Akan tetapi dalam pertemuan OPEC bulan November 2014, Arab Saudi sebagai produsen minyak terbesar di dunia berkeras untuk mempertahankan pasar & menolak untuk menurunkan produksinya. Langkah ini menyebabkan harga minyak terjun bebas, dan menyebabkan gejolak perdagangan minyak dunia. Lebih jauh lagi, anjloknya harga minyak menyebabkan defisit APBN negara-negara eksportir minyak (seperti Rusia & Venezuela) dimana minyak bumi menjadi komoditi utama sekaligus penyumbang pendapatan negara terbesar.
Langkah Arab Saudi memang mendapat tentangan keras dari negara-negara OPEC. Namun jika menilik peristiwa serupa di dekade 80an, tatkala harga minyak bumi juga jatuh di level terendah, hal tersebut cukup beralasan. Pada dekade tersebut, harga minyak jatuh di titik terendah dari harga normal sebesar 35 Dollar AS per barel hingga mencapai di bawah 10 Dollar AS per barel. Arab Saudi berupaya mengembalikan harga minyak dengan cara memangkas produksi hingga tersisa 1/4 bagian dari produksi normal mereka. Akan tetapi pada akhirnya yang terjadi adalah harga tetap jatuh dan Arab Saudi kehilangan pangsa pasar.
Berdasar pengalaman tersebut, Arab Saudi merubah strategi mereka dengan tetap mempertahankan produksi rata-rata dengan harapan jatuhnya harga minyak akan menyebabkan produksi tight oil menjadi tidak ekonomis dan bangkrutnya perusahaan yang beregerak di bidang ekplorasi & produksi tight oil.
Di sisi lain, publik AS sendiri saat ini menikmati murahnya harga minyak (mengingat tingginya konsumsi & tingkat impor AS), sekaligus menyaksikan krisis ekonomi melanda negara-negara musuh ideologi mereka: Rusia, Venezuela, dan Iran.



No comments:
Post a Comment