Monday, December 8, 2014

Minyak, Emas, dan Dollar AS


Prolog

Berdasarkan data dari situs energi AS, www.eia.gov (data tahun 2009), konsumen minyak mentah (crude oil) terbesar di dunia adalah AS (21%), Eropa (15.8%), dan China (11.2%).

Besarnya konsumsi tiga negara/kawasan di atas menjadikan mereka sebagai pemain utama yang sangat mempengaruhi fluktuasi harga minyak mentah.
Di sisi lain, tiga negara/kawasan tersebut memiliki ketergantungan yang sangat besar akan impor minyak mentah untuk pemenuhan kebutuhan domestik mereka: AS (48%), Eropa (75%), dan China (50%). Hal ini menjadikan fluktuasi harga minyak mentah juga akan sangat berpengaruh besar terhadap ekonomi dari negara/kawasan tersebut.

Kenaikan harga minyak mentah akan memicu inflasi tinggi, kenaikan harga-harga barang & kebutuhan pokok, dan juga akan mengakibatkan memburuknya kondisi perekonomian negara/kawasan tersebut.

Note: Data saya ambil untuk tahun 2009, karena peta konsumsi minyak mentah dunia tahun 2010 ke atas sudah berubah cukup drastis dengan pengembangan shale oil di kawasan North America, termasuk AS. Ini akan saya bahas di tulisan saya yang selanjutnya.


Minyak, Emas, dan Dollar AS

Menilik sejarah ke belakang, selama perang dunia I dan II, AS masih mampu mencukupi kebutuhan minyaknya sendiri. Pada tahun 1950an, M. King Hubbert, seorang geophysicist ternama AS mengembangkan predictive model berupa kurva yang disebut Hubbert's curve. Kurva ini menunjukkan besaran produksi minyak mentah dari tahap discovery (penemuan lapangan minyak baru), hingga tahap depletion (penipisan cadangan).

Di semua lapangan minyak, produksi akan meningkat seiring dengan pengeboran sumur-sumur baru dan juga pengaplikasian teknologi-teknologi baru. Akan tetapi pada akhirnya kondisi peak oil akan tercapai, dan sesudahnya laju produksi akan melambat (dan cenderung negatif) dan akan menjadi semakin tidak ekonomis. Berdasarkan kurva tersebut, akan tercapai satu titik dimana besarnya usaha & biaya yang dibutuhkan untuk mengambil minyak mentah dari perut bumi, transportasi, dan menyuling (refine) minyak mentah akan lebih besar/mahal dari nilai minyak itu sendiri.

Pada awalnya, prediksi ini disambut dengan sikap skeptis oleh sebagian besar orang.

Akan tetapi pada tahun 1970, prediksi tersebut benar-benar menjadi kenyataan. Produksi minyak mentah di AS melambat dan tidak banyak sumber-sumber cadangan minyak baru yang ditemukan. Para analis memperkirakan bahwa cadangan minyak bumi dunia (global oil reserves) menipis dengan laju 6% per tahun, sedangkan besar kebutuhan akan meningkat sebesar 2% per tahun (dan akan terus meningkat selama 20 tahun mendatang). Dengan kondisi tersebut, harga minyak mentah akan terus meroket, dan terbukti menyentuh level USD 130/bbl pada tahun 2008.

Lantas bagaimanakah hubungan antara minyak, emas, dan Dollar AS ?

Dari sejak jaman dahulu, emas sudah menjadi alat perdagangan yang paling utama. Sebuah negara yang memiliki simpanan emas terbanyak secara otomatis menjadi negara yang paling kaya. Hal inilah yang mendorong negara2 Eropa di abad 15 untuk mengeksplorasi daerah baru di barat, dimana salah satu tujuan utamanya adalah untuk mencari emas sebanyak-banyaknya, yang akan menjadikan mereka sebagai negara terkaya.

Pada pertengahan tahun 1800-an, uang kertas mulai diperkenalkan sebagai 'representasi' emas yang bersifay bulky dan sangat tidak praktis digunakan untuk bertransaksi. Jumlah uang kertas yang dapat dicetak oleh satu negara haruslah setara dengan jumlah emas yang dimiliki oleh negara tersebut. Hal ini merupakan syarat utama untuk menjaga nilai mata uang kertas itu sendiri dari ancaman inflasi.

Akan tetapi, pada kenyatannya persyaratan utama ini dilanggar oleh AS sendiri. Ketika Perang Dunia I berkecamuk, AS ikut terseret di dalamnya. The Fed (Federal Reserves - bank sentral AS yang didirikan tahun 1913 untuk melakukan regulasi mata uang & emas AS) mencetak lebih banyak uang untuk menutupi besarnya biaya yang ditimbulkan oleh keterlibatan AS dalam Perang Dunia I. Hal ini menyebabkan Dollar AS yang beredar lebih banyak dari simpanan emas itu sendiri.

Ketika PD I berakhir, US Treasury Dept. (departemen keuangan AS, yang bertugas untuk mengelola aset-aset negara) menyadari ancaman akan adanya kegagalan penebusan emas jika pemegang Dollar AS bermaksud mencairkan Dollar AS dan menukarkannya dengan emas.  Stok emas yang ada saat itu tidak mencukupi/tidak sebanding dengan Dollar AS yang beredar. Hal ini dapat mengakibatkan kepanikan dan penarikan simpanan emas secara besar-besaran oleh publik.

Keadan tersebut memaksa Presiden Roosevelt untuk mengambil kebijakan dengan mengeluarkan US Gold Reserve Act di tahun 1933, yang isinya adalah antara lain mencabut hak kepemilikan emas oleh pihak swasta & perorangan. Sebagai konsekuensinya, emas yang ada di pasaran harus dikembalikan/dijual secara ekslusif ke Treasury sebagai pengelola aset negara yang sah . Selain itu, Act tersebut juga menaikkan 'harga' emas dari US$ 20.67 per ounce hingga menjadi US$ 35 per ounce. Insentif ini memancing para investor emas yang ada di belahan dunia yang lain untuk mengekspor emas ke AS, dimana hal ini secara tidak langsung akan meningkatkan cadangan emas Treasury.

Di tahun 1944, delegasi dari 44 negara berkumpul di AS di sebuah konferensi yang dikenal sebagai Bretton Woods Conference. Konferensi ini membidani lahirnya International Monetary Fund (IMF) dan World Bank. Di konferensi ini pula, semua negara bersepakat untuk menetapkan fix currency rate antara mata uang mereka dengan Dollar AS (dikenal juga dengan istilah peg). 

Mekanisme ini dilakukan oleh bank sentral di tiap negara, dengan melakukan intervensi terhadap fluktuasi nilai tukar mata uang. Jika nilai mata uang di satu negara lebih rendah terhadap Dollar AS, maka bank sentral akan melakukan pembelian mata uang mereka di foreign exchange market. Sebaliknya jika nilai tukar mata uang terlalu tinggi terhadap Dollar AS, maka bank sentral akan mengeluarkan kebijakan untuk mencetak lebih banyak uang.

Dollar AS disepakati sebagai acuan currency rate oleh banyak negara dunia, karena saat itu AS memiliki persediaan emas terbanyak (sekitar 3/4 dari total jumlah emas dunia), dan AS merupakan negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Saat itu, Dollar AS dipatok setara dengan 1/35 ounce emas. Secara tidak langsung, dengan mem-peg mata uang terhadap Dollar AS, berarti mematok terhadap nilai emas.

Di saat yang sama, AS juga merupakan produsen minyak terbesar di dunia, dan sebaliknya juga merupakan konsumen minyak terbesar di dunia. Semua transaksi perdangangan minyak dilakukan dengan Dollar AS, terkecuali transaksi dengan negara-negara Timur Tengah, dimana transaksi perdagangan minyak bumi dilakukan dengan emas.

Pasca Perang Dunia II, AS sebagai pemenang perang mendominasi perekonomian dunia, sedangkan Jepang & Jerman yang berada di pihak yang kalah menjalani pemulihan ekonomi berdasarkan Marshall Plan Program (1948-1951).

Di dekade 1960an, keadaan ekonomi Jepang & Jerman membaik dan industri berkembang secara signifikan. Hal ini menyebabkan dominasi AS dalam perekonomian dunia mengalami penurunan. Di tahun 1971, AS mengalami stagflasi, yaitu kondisi dimana terjadi tingginya angka inflasi & pengangguran dan resesi ekonomi, dimana salah satu penyebabnya adalah kerugian dan kegagalan AS dalam perang Vietnam.

Rencana Presiden Nixon untuk men-deflasi nilai Dollar AS disambut dengan penurunan kepercayaan pasar. Penebusan emas terjadi secara besar-besaran yang pada akhirnya mengakibatkan menipisnya persediaan emas AS. Di tahun 1973, Presiden Nixon mengeluarkan kebijakan (yang kemudian dikenal sebagai Nixon Shock) untuk memutus ikatan antara Dollar AS dengan emas. Tanpa ada kontrol dari pemerintah, harga emas mencapai level tertinggi US$ 120 per ounce. Peristiwa-peristiwa tersebut menandai berakhirnya era Bretton Woods.

Menyadari melemahnya apresiasi dunia terhadap Dollar AS, Presiden Nixon berupaya melobi Arab Saudi untuk menggunakan Dollar AS sebagai alat transaksi untuk setiap perdagangan minyak dengan Arab Saudi. Posisi strategis Arab Saudi sebagai anggota OPEC sekaligus produsen minyak bumi terbesar di dunia dianggap akan mengembalikan nilai tukar dan memastikan ketergantungan akan Dollar AS. Sebagai imbalannya, AS akan memasok senjata dan menjamin perlindungan Arab Saudi dari ancaman konflik & ketegangan yang acapkali melanda Timur Tengah.

Kesepakatan ini membuahkan hasil, dan semenjak tahun 1975, transaksi perdagangan minyak bumi (dan hampir seluruh transaksi ekonomi dunia) hampir pasti selalu menggunakan Dollar AS sebagai alat tukar utamanya.


Epilog

Meskipun Dollar AS menjadi standar mata uang yang digunakan untuk transaksi perdagangan dunia, sejatinya hal tersebut tidak serta-merta selalu membawa keuntungan bagi perekonomian AS. Tingginya nilai tukar Dollar AS yang diakibatkan oleh tingginya demand (misal ketika jatuh tempo pembayaran utang negara-negara berkembang) justru melemahkan ekspor dan membuat impor lebih murah. Hal ini bisa menyebabkan trade deficit, dan membahayakan sektor-sektor industri di AS yang sangat bergantung kepada aktifitas ekspor.

Dengan kecenderungan melemahnya Dollar AS dari tahun ke tahun, hal ini akan semakin mengakibatkan mahalnya harga emas dan minyak. Meningkatnya defisit nilai tukar Dollar AS dan beban utang luar negeri AS yang menggunung, akan mengakibatkan negara-negara yang memiliki cadangan devisa dalam bentuk Dollar AS akan berpaling menggunakan mata uang alternatif (misal: Euro).

Perdana Mentri Rusia, Vladimir Putin, dan Presiden Venezuela, Hugo Chavez (R.I.P.) pernah mengumumkan untuk mengganti seluruh transaksi perdagangan minyak bumi dengan menggunakan Euro, dalam waktu dekat. Bahkan Arab Saudi juga memiliki maksud yang sama (selain wacana untuk kembali menggunakan emas/dinar). Jika hal ini sampai terjadi, bisa dibayangkan betapa porak-porandanya nilai tukar Dollar AS, dan meroketnya harga emas dan minyak bumi.

Rententan peristiwa inilah yang menjadi dasar dari Petrodollar theory, yakni teori yang berkembang dan diyakini sebagai alasan utama mengapa AS melakukan invasi ke Iraq pasca 9/11.


Working Abroad: Seoul, South Korea

Di tahun 2011, ada satu momen penting terjadi dalam hidup saya.

Tanggal 7 Maret 2011, saya menginjakkan kaki pertama kali di Seoul, Korea Selatan, sekaligus memulai petualangan sebagai TKI profesional (atau istilah kerennya white collar worker).

Saat berangkat ke Seoul pada waktu itu, total ada sekitar 21 orang engineer (termasuk saya) dari Indonesia yang sama-sama baru bergabung dengan GS E&C, salah satu EPC Contractor Korea Selatan yang banyak mengerjakan proyek2 Oil & Gas prestisius di Middle East & Asia. Rekan-rekan saya tersebut datang dari berbagai disiplin & latar belakang, ada yg berprofesi sebagai Project Engineer, Electrical Engineer, Civil Engineer, Instrument Engineer, dll. Satu faktor kesamaan di antara kami adalah sama-sama memiliki pengalaman bekerja di Oil & Gas EPC Contractor di Indonesia selama minimal 5 tahun.

Rasa senang, berdebar, penasaran dan kuatir bercampur jadi satu. Bagi sebagian besar dari kami, saat itu adalah pertama kali kami memulai karir dan tinggal di luar negeri untuk jangka waktu yang tidak sebentar. Selain itu, kami berangkat ke Korea Selatan di saat K-Pop sedang mewabah & menjangkiti kaum muda di Indonesia dan juga di saat suhu ketegangan antara Korea Selatan dan Korea Utara sedang mengalami ekskalasi sebagai akibat dari kontak senjata di perbatasan Korut-Korsel beberapa minggu sebelumnya.

Faktor terakhir yang saya sebutkan di atas menyebabkan beberapa kandidat yang dipanggil interview oleh GS E&C menolak dan mengundurkan diri dengan alasan kuatir akan keselamatan diri pribadi.

Saya sendiri..? Maju terus pantang mundur..

Ada beberapa faktor utama yang mengharuskan saya untuk menerima tawaran pekerjaan dari GS E&C saat itu:
  1. Faktor Ekonomi. Mendapatkan undangan interview dari GS E&C, ibarat pucuk dicinta ulam tiba. Saat itu saya masih bekerja di kantor yang lama, dan sedang mengalami kesulitan ekonomi. Gaji per bulan yang saya terima terlalu mepet (kalau tidak mau dikatakan tidak cukup) untuk membiayai keperluan hidup saya & keluarga, juga untuk membayar cicilan rumah ke bank & hutang DP rumah. Saya sudah cukup lama berusaha mencari pekerjaan lain dengan cara melamar ke berbagai perusahaan, akan tetapi hasilnya nihil. Ada yang mau menerima, tapi besaran gaji yang ditawarkan tidak berbeda secara signifikan. Ada yang menolak dengan alasan dianggap belum cukup pengalaman. Tidak sedikit pula yang malah tidak memberikan respon sama sekali. Waktu itu sebetulnya saya juga sempat berhasil diterima di salah satu perusahaan di Singapura, namun saya gagal berangkat karena ijin & visa kerja dari pemerintah Singapura tidak keluar. Besaran gaji yang ditawarkan oleh GS E&C memang tidak terlalu istimewa, apalagi kalau dibandingkan dengan rata-rata gaji yang diterima rekan-rekan senior yang bekerja di Middle East & Africa. Akan tetapi, bagi saya ini sudah merupakan awal yang baik untuk sejenak melepaskan dari beban himpitan ekonomi dan juga kepenatan hidup di Jakarta. Apalagi setelah dihitung-hitung, saving yang bisa didapat per bulan masih cukup lumayan pada saat itu.
  2. Faktor Sosial. Rasa-rasanya hampir semua orang sependapat dengan saya, bekerja di Jakarta itu capek-nya berlipat-lipat. Untuk berangkat ke kantor saja, kita harus rela bangun pagi-pagi sebelum subuh dan mulai berangkat selepas subuh. Di jalan, harus menghadapi kemacetan parah & perilaku pengguna jalan yang kebanyakan selfish & tidak mengindahkan peraturan lalu lintas. Waktu tempuh sangat tidak masuk akal jika dibandingkan dengan jarak tempuh yang dilalui. Perjalanan ketika pulang kantor pun sama saja. Bahkan di tahun terakhir saya bekerja di perusahaan yang lama, saya sering harus bekerja lembur dan akibatnya seringkali baru sampai di rumah jam 11 malam. Kadangkala jika sedang ada deadline pekerjaan, saya sampai terpaksa menginap di kos teman di dekat kantor, karena sudah terlalu malam dan sudah terlalu capek untuk menempuh perjalanan kembali ke rumah. Di Seoul, keadaan di jalan raya juga tidak lebih baik dibanding Jakarta. Akan tetapi mass transportation yang tersedia sangat-sangat mudah, nyaman, dan murah. Di bawah apartemen saya sudah ada halte bus, dan jika ingin menaiki subway atau kereta bawah tanah cukup berjalan 250 meter saja dari pintu apartemen. Taksi pun banyak yang ngetem di dekat stasiun dan biaya argo awal pun relatif cukup murah. Semuanya tersedia dengan tingkat kenyamanan yang sangat jauh berbeda dibandingkan transportasi umum di Jakarta. Dengan alternatif moda transportasi umum tersebut, kita sudah bisa menjangkau hampir seluruh sudut kota Seoul.
  3. Pengalaman kerja internasional. Setelah mulai berkarir sebagai engineer di industri Oil & Gas, saya banyak mendapatkan informasi mengenai peluang bekerja di luar negeri yang menawarkan iming2 gaji besar dan tingkat kehidupan yang lebih baik. Hanya saja untuk bisa berkarir di luar negeri, rata2 mensyaratkan pengalaman kerja minimal 5-8 tahun. Memang ada beberapa kasus tertentu dimana dengan pengalaman kerja kurang dari waktu tersebut, sudah bisa mulai bekerja di luar negeri. Akan tetapi hal tersebut sangat tergantung kepada bidang pekerjaan/profesi, skill level, dan tentu saja faktor keberuntungan juga ikut bermain. Ketika dinyatakan diterima di GS E&C, saya memang sudah memiliki pengalaman bekerja selama 5 tahun. Dan saya rasa saat itu merupakan saat yang tepat untuk menimba pengalaman dan memulai karir internasional. Harapannya, dengan memulai karir internasional sedini mungkin, karir saya ke depannya juga akan lebih baik lagi.
  4. Pengalaman hidup di luar negeri. Tatkala saya mulai menempuh  pendidikan S1 di ITB, saya memiliki cita-cita untuk lulus tepat waktu, cum-laude, segera melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 & S3 di universitas di luar negeri dengan beasiswa penuh, dan kelak kembali ke tanah air untuk mengabdi sebagai pengajar atau tenaga riset. Akan tetapi, pada akhirnya yang terjadi adalah saya keasyikan menikmati masa-masa kebebasan sebagai mahasiswa, dan justru semakin jauh dan malah tidak berhasil meraih cita-cita mulia tersebut.. hehehe.. Jangankan bermimpi untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri, hanya untuk melengkapi persyaratan tes TOEFL saja, saya seringkali tunda-tunda niat tersebut dengan berbagai macam alasan. Dengan adanya kesempatan bekerja di luar negeri, saya menganggapnya sebagai pengganti cita-cita yang gagal, dan saya berharap agar pengalaman ini kelak bisa berguna untuk saya dan keluarga.
  5. Kesempatan liburan gratis bersama keluarga. Di antara semua alasan yang saya kemukakan di atas, alasan terakhir ini adalah yang paling penting.. hehehe :) GS E&C memberikan pilihan kepada saya untuk memboyong keluarga saya ke Seoul. Akomodasi, tiket untuk mobilisasi & demobilisasi, tiket cuti tahunan, pengurusan visa, pengaturan keberangkatan, asuransi keluarga, dll. semua disediakan oleh kantor. Kami hanya perlu duduk manis sambil menunggu kedatangan keluarga kami yang menyusul 1 bulan setelah kami tiba di Korea terlebih dahulu. Ini adalah kesempatan yang sangat baik sekaligus langka bagi saya untuk memberikan liburan gratis sekaligus pengalaman tinggal di luar negeri bagi keluarga kecil saya. Dan memang, pengalaman tinggal di Korea Selatan selama 2 tahun banyak memberikan pelajaran dan pengalaman berharga bagi kami. Kami belajar untuk hidup mandiri lepas dari uluran tangan orangtua, belajar mengurus anak sendiri tanpa bantuan pengasuh anak (jasa pengasuh anak/babysitter di Korea sangat mahal!), belajar survive di tengah masyarakat yang berbeda budaya & agama, dll. Pada awalnya, semuanya terasa berat. Akan tetapi lama kelamaan kami mulai terbiasa, dan segala perasaan nelangsa jauh dari tanah air terobati dengan pengalaman baru bermain salju di kala musim dingin, menyaksikan bunga sakura merekah tatkala musim semi, dan menikmati pemandangan daun-daun pepohonan berganti warna ketika musim gugur. Bagaimana dengan musim panas..? Ssstt.. itu hanya cowo-cowo saja yang tahu.. hehehehe... :D

Berikut ini adalah beberapa foto moda transportasi umum di Korea, apartemen kami, dan juga beberapa tempat wisata di Seoul.

image
Bus Intra-city Seoul



image
Di dalam bus intra-city Seoul



image
Seoul Metro Subway


image
Di dalam Seoul Metro Subway


image
Taksi Seoul



image
Stasiun Seoul Metro Subway


image
Rombongan pertama GS E&C Batch 7 Maret 2011


image
Apartemen Daelim Acrotel, tempat tinggal kami selama 2 tahun di Seoul
image
Jeongja Street - tempat hangout di sekitar apartemen kami, ada banyak coffe shop & restoran bagus & nyaman



image
Seoul Namsan Tower




image
Seoul Namsan Tower Complex



image
Nami Island - tempat shooting Winter Sonata


image
Gyeongbokgung Palace


image
Seoul Land



image
Suasana taman di dekat apartemen ketika winter


image
Bermain ski bersama rekan2 Samsung E&C


My First DSLR

Akhirnya setelah menunggu sekitar hampir 3 tahun, saya memutuskan untuk membeli kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex). Setelah melalui berbagai pertimbangan, pilihan saya jatuh ke Nikon model D3300 yang dibundel lengkap dengan lensa kit standar 18-55 mm.


Kenapa sampai butuh waktu sampai 3 tahun ?

Yang pertama adalah alasan budget. Harga kamera DSLR terbilang cukup mahal dibandingkan dengan kamera tipe yang lain. Tentu saja harga tersebut 
adalah konsekuensi dari berbagai fungsi & fitur yang ditawarkan oleh kamera DSLR, yang tak ditemui di kamera tipe lain, semacam pocket camera misalnya. Salah satu contoh kelebihan kamera DSLR adalah kemampuan untuk dapat menangkap image pada kondisi pencahayaan minimum (low light photography) dengan hasil yang prima. Selain itu, kamera DSLR memberikan keleluasaan kepada user untuk dapat mengatur hasil bidikan dengan secara maksimal.

Alasan yang kedua adalah masalah waktu. Sejak awal saya tahu, jika membeli kamera DSLR, saya harus meluangkan waktu untuk meng-oprek berbagai setting & fungsi kamera dan mempelajari berbagai teknik fotografi, agar investasi yang kita keluarkan untuk membeli kamera tersebut tidak terbuang percuma. Sebab, klo pada akhirnya kita membeli kamera DSLR dan hanya menggunakan Auto Mode, harga sekitar 6 juta (minimum) terasa mahal untuk saya. Saat itu, kesibukan saya di kantor (Seoul, Korea Selatan) cukup padat, dan saya sering pulang terlambat sampai di apartemen. Saya lebih suka meluangkan waktu untuk bermain bersama anak atau ngobrol dengan istri, ketimbang sibuk sendiri mengelus2 kamera, hehehe..

Meskipun demikian, keinginan untuk memiliki kamera DSLR masih saya simpan dalam hati, hanya saja saya ingin menunggu waktu yang tepat.

Dan akhirnya, ketika summer holiday tahun ini istri & anak2 memutuskan untuk mengambil liburan dan pulang lebih awal ke tanah air, saya akhirnya memantapkan diri untuk membeli kamera DSLR. Waktu luang yang ada bisa saya manfaatkan untuk sekedar meng-oprek dan meng-eksplore segala kelebihan yang ada di kamera tsb.

Berikut adalah penampakan Nikon D3300 dengan lensa 18-55 mm:

image
(photo courtesy of www.nikon.com)




Berikut adalah beberapa contoh hasil jepretan dengan kamera Nikon D3300 saya:

image
Hamad International Airport



image
Doha Corniche



image
Arumaila Hotel - Souq Waqif



image
Katara Mosque



image
Bokeh



image
State Mosque



image
The Pearl




Sunday, December 7, 2014

Tentang Saya

Ok, ini tulisan pertama saya di tumblr..

Saya ingin bercerita sedikit mengenai saya dan kehidupan saya.
Kenapa cerita mengenai saya ? Tentu saja, karena judulnya ‘Tentang Saya’, Klo mengenai orang lain, tentu judulnya ‘Tentang Orang Lain’.. Hehehe..sorry, just kidding ;)

Nama lengkap saya Muhammad Rahman Sani Aji Nugraha. Saya lahir 31 tahun lalu di Yogyakarta, sebuah kota kecil di pesisir selatan Jawa Tengah. Saya menghabiskan masa kecil & remaja selama hampir 18 tahun di Yogyakarta, sebelum kemudian hijrah & melanjutkan kuliah di Bandung.

Butuh waktu selama kurang lebih 5 tahun bagi saya untuk menyelesaikan pendidikan di ITB. Satu hal yang saya sesali sampai sekarang.. Bukan karena terlalu lama untuk menyelesaikan kuliah.. tapi justru karena terlalu singkat untuk menikmati masa-masa indah kuliah di Bandung dan melewatkan masa muda untuk bersegera serius menata hidup saya, hehehe..

Bagi saya, saat2 kuliah memang sangat menyenangkan. Di samping kecintaan saya terhadap kota Bandung (I do love the city’s weather & ambience), masa2 kuliah adalah saat dimana saya banyak menemui hal baru & unik, baik dalam studi, pertemanan, percintaan (cieh), dan banyak hal lainnya.

Selepas lulus kuliah, akhir tahun 2005 saya diterima bekerja di salah satu perusahaan EPC (Engineering, Procurement & Construction) bidang Oil & Gas di Jakarta. Perusahaan tersebut-lah yang menjadi kawah candradimuka pertama bagi saya untuk mengembangkan keilmuan di bidang rekayasa instrumentasi & kontrol (Instrument & Control Engineering). Satu hal yang sebelumnya gak pernah terbayangkan, bahwa pada akhirnya saya menapaki karir sebagai seorang engineer, mengingat saat kuliah saya lebih banyak bolos kuliah, nyaris ga pernah belajar, dan lebih bermimpi untuk menjadi seorang artis/musisi sebagaimana hobi yang saya tekuni sejak SMP (musik), hehehe.. Ya, saya memang memiliki keinginan untuk menjadi musisi, dan saat kuliah di Bandung itulah saya sempat mencoba peruntungan di bidang musik dengan membuat beberapa rekaman otodidak dan manggung dari satu tempat ke tempat lain.

Well, pada akhirnya, ada satu saat dimana manusia dihadapkan pada berbagai pilihan yang akan menentukan jalan hidup mereka. Itulah yang terjadi juga pada saya, tatkala akhirnya saya bisa lulus kuliah cukup tepat waktu (Saya katakan cukup tepat waktu, karena kalau melihat segala kebiasaan jelek waktu kuliah, saya cukup beruntung lulus hanya molor 1 tahun dari standar waktu kelulusan yang 4 tahun).

Saat itu saya punya pilihan… Bukan.. bukan.. Pilhannya bukan menjadi artis ataupun musisi (karena pada akhirnya saya menyadari bahwa saya tak cukup punya bakat, tampang & penampilan untuk menjadi artis, hehehehe..), tetapi apakah saya akan melanjutkan bekerja atau mencoba mencari beasiswa S2 (yang pada akhirnya memang tidak pernah saya lakukan).

Singkat cerita, akhirnya nasib & doa orangtua membawa saya menjadi seorang engineer. Bidangnya pun tak jauh2 dari background ilmu yang saya peroleh di bangku kuliah. Sebagai catatan, waktu itu banyak rekan-rekan satu jurusan saya yang—meskipun sama2 bekerja sebagai engineer—kemudian bekerja di bidang yang tidak terlalu sesuai dengan nature seorang sarjana  Teknik Fisika. Ada yang bekerja sebagai Electronic Engineer, Telecom Engineer, Sales Engineer, dll. Sebetulnya sih klo dibilang tidak terlalu sesuai juga ga sepenuhnya tepat juga, karena toh induk dari semua ilmu engineering adalah sama, hanya saja memang spesialisasi-nya berbeda2. Mungkin juga inilah salah satu kelebihan pendidikan Teknik Fisika seperti yang banyak di-doktrin-kan oleh para senior maupun alumni, bahwa sarjana teknik fisika adalah ibarat sebuah Master Key, yang bisa klik dengan lobang konci manapun, hehehe..

Saat ini saya bermukim di Doha, Qatar, sejak April 2013,  bersama dengan istri tercinta dan 2 anak saya yang masing2 masih berusia 4.5 dan 1.5 tahun. Sebelumnya, saya menjalani karir di perusahaan pertama di Jakarta selama 5 tahun, kemudian hijrah ke Seoul, Korea Selatan untuk bergabung dengan perusahaan yang bergerak di bidang yang sama selama 2 tahun.

Istri saya bernama Dyah Ayu Puspitosari, a full time mom, manajer rumah tangga, sekaligus juga calon pengusaha kue yang sukses :) Anak saya yang pertama bernama Raffa Januar Rasyid, saat ini duduk di level KG1 di Doha International Kindergarten, dan yang kedua bernama Zein Evano Fabian Rasyid, saat ini masih sibuk bermain di rumah sambil ikut membantu mamanya memberantakkan isi rumah :)




Ini foto penampakan kami berempat, sayang Evan tertutup jaket yang digunakan untuk penahan dingin.


Nah ini foto penampakan Raffa & Evan