Monday, December 8, 2014

Working Abroad: Seoul, South Korea

Di tahun 2011, ada satu momen penting terjadi dalam hidup saya.

Tanggal 7 Maret 2011, saya menginjakkan kaki pertama kali di Seoul, Korea Selatan, sekaligus memulai petualangan sebagai TKI profesional (atau istilah kerennya white collar worker).

Saat berangkat ke Seoul pada waktu itu, total ada sekitar 21 orang engineer (termasuk saya) dari Indonesia yang sama-sama baru bergabung dengan GS E&C, salah satu EPC Contractor Korea Selatan yang banyak mengerjakan proyek2 Oil & Gas prestisius di Middle East & Asia. Rekan-rekan saya tersebut datang dari berbagai disiplin & latar belakang, ada yg berprofesi sebagai Project Engineer, Electrical Engineer, Civil Engineer, Instrument Engineer, dll. Satu faktor kesamaan di antara kami adalah sama-sama memiliki pengalaman bekerja di Oil & Gas EPC Contractor di Indonesia selama minimal 5 tahun.

Rasa senang, berdebar, penasaran dan kuatir bercampur jadi satu. Bagi sebagian besar dari kami, saat itu adalah pertama kali kami memulai karir dan tinggal di luar negeri untuk jangka waktu yang tidak sebentar. Selain itu, kami berangkat ke Korea Selatan di saat K-Pop sedang mewabah & menjangkiti kaum muda di Indonesia dan juga di saat suhu ketegangan antara Korea Selatan dan Korea Utara sedang mengalami ekskalasi sebagai akibat dari kontak senjata di perbatasan Korut-Korsel beberapa minggu sebelumnya.

Faktor terakhir yang saya sebutkan di atas menyebabkan beberapa kandidat yang dipanggil interview oleh GS E&C menolak dan mengundurkan diri dengan alasan kuatir akan keselamatan diri pribadi.

Saya sendiri..? Maju terus pantang mundur..

Ada beberapa faktor utama yang mengharuskan saya untuk menerima tawaran pekerjaan dari GS E&C saat itu:
  1. Faktor Ekonomi. Mendapatkan undangan interview dari GS E&C, ibarat pucuk dicinta ulam tiba. Saat itu saya masih bekerja di kantor yang lama, dan sedang mengalami kesulitan ekonomi. Gaji per bulan yang saya terima terlalu mepet (kalau tidak mau dikatakan tidak cukup) untuk membiayai keperluan hidup saya & keluarga, juga untuk membayar cicilan rumah ke bank & hutang DP rumah. Saya sudah cukup lama berusaha mencari pekerjaan lain dengan cara melamar ke berbagai perusahaan, akan tetapi hasilnya nihil. Ada yang mau menerima, tapi besaran gaji yang ditawarkan tidak berbeda secara signifikan. Ada yang menolak dengan alasan dianggap belum cukup pengalaman. Tidak sedikit pula yang malah tidak memberikan respon sama sekali. Waktu itu sebetulnya saya juga sempat berhasil diterima di salah satu perusahaan di Singapura, namun saya gagal berangkat karena ijin & visa kerja dari pemerintah Singapura tidak keluar. Besaran gaji yang ditawarkan oleh GS E&C memang tidak terlalu istimewa, apalagi kalau dibandingkan dengan rata-rata gaji yang diterima rekan-rekan senior yang bekerja di Middle East & Africa. Akan tetapi, bagi saya ini sudah merupakan awal yang baik untuk sejenak melepaskan dari beban himpitan ekonomi dan juga kepenatan hidup di Jakarta. Apalagi setelah dihitung-hitung, saving yang bisa didapat per bulan masih cukup lumayan pada saat itu.
  2. Faktor Sosial. Rasa-rasanya hampir semua orang sependapat dengan saya, bekerja di Jakarta itu capek-nya berlipat-lipat. Untuk berangkat ke kantor saja, kita harus rela bangun pagi-pagi sebelum subuh dan mulai berangkat selepas subuh. Di jalan, harus menghadapi kemacetan parah & perilaku pengguna jalan yang kebanyakan selfish & tidak mengindahkan peraturan lalu lintas. Waktu tempuh sangat tidak masuk akal jika dibandingkan dengan jarak tempuh yang dilalui. Perjalanan ketika pulang kantor pun sama saja. Bahkan di tahun terakhir saya bekerja di perusahaan yang lama, saya sering harus bekerja lembur dan akibatnya seringkali baru sampai di rumah jam 11 malam. Kadangkala jika sedang ada deadline pekerjaan, saya sampai terpaksa menginap di kos teman di dekat kantor, karena sudah terlalu malam dan sudah terlalu capek untuk menempuh perjalanan kembali ke rumah. Di Seoul, keadaan di jalan raya juga tidak lebih baik dibanding Jakarta. Akan tetapi mass transportation yang tersedia sangat-sangat mudah, nyaman, dan murah. Di bawah apartemen saya sudah ada halte bus, dan jika ingin menaiki subway atau kereta bawah tanah cukup berjalan 250 meter saja dari pintu apartemen. Taksi pun banyak yang ngetem di dekat stasiun dan biaya argo awal pun relatif cukup murah. Semuanya tersedia dengan tingkat kenyamanan yang sangat jauh berbeda dibandingkan transportasi umum di Jakarta. Dengan alternatif moda transportasi umum tersebut, kita sudah bisa menjangkau hampir seluruh sudut kota Seoul.
  3. Pengalaman kerja internasional. Setelah mulai berkarir sebagai engineer di industri Oil & Gas, saya banyak mendapatkan informasi mengenai peluang bekerja di luar negeri yang menawarkan iming2 gaji besar dan tingkat kehidupan yang lebih baik. Hanya saja untuk bisa berkarir di luar negeri, rata2 mensyaratkan pengalaman kerja minimal 5-8 tahun. Memang ada beberapa kasus tertentu dimana dengan pengalaman kerja kurang dari waktu tersebut, sudah bisa mulai bekerja di luar negeri. Akan tetapi hal tersebut sangat tergantung kepada bidang pekerjaan/profesi, skill level, dan tentu saja faktor keberuntungan juga ikut bermain. Ketika dinyatakan diterima di GS E&C, saya memang sudah memiliki pengalaman bekerja selama 5 tahun. Dan saya rasa saat itu merupakan saat yang tepat untuk menimba pengalaman dan memulai karir internasional. Harapannya, dengan memulai karir internasional sedini mungkin, karir saya ke depannya juga akan lebih baik lagi.
  4. Pengalaman hidup di luar negeri. Tatkala saya mulai menempuh  pendidikan S1 di ITB, saya memiliki cita-cita untuk lulus tepat waktu, cum-laude, segera melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 & S3 di universitas di luar negeri dengan beasiswa penuh, dan kelak kembali ke tanah air untuk mengabdi sebagai pengajar atau tenaga riset. Akan tetapi, pada akhirnya yang terjadi adalah saya keasyikan menikmati masa-masa kebebasan sebagai mahasiswa, dan justru semakin jauh dan malah tidak berhasil meraih cita-cita mulia tersebut.. hehehe.. Jangankan bermimpi untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri, hanya untuk melengkapi persyaratan tes TOEFL saja, saya seringkali tunda-tunda niat tersebut dengan berbagai macam alasan. Dengan adanya kesempatan bekerja di luar negeri, saya menganggapnya sebagai pengganti cita-cita yang gagal, dan saya berharap agar pengalaman ini kelak bisa berguna untuk saya dan keluarga.
  5. Kesempatan liburan gratis bersama keluarga. Di antara semua alasan yang saya kemukakan di atas, alasan terakhir ini adalah yang paling penting.. hehehe :) GS E&C memberikan pilihan kepada saya untuk memboyong keluarga saya ke Seoul. Akomodasi, tiket untuk mobilisasi & demobilisasi, tiket cuti tahunan, pengurusan visa, pengaturan keberangkatan, asuransi keluarga, dll. semua disediakan oleh kantor. Kami hanya perlu duduk manis sambil menunggu kedatangan keluarga kami yang menyusul 1 bulan setelah kami tiba di Korea terlebih dahulu. Ini adalah kesempatan yang sangat baik sekaligus langka bagi saya untuk memberikan liburan gratis sekaligus pengalaman tinggal di luar negeri bagi keluarga kecil saya. Dan memang, pengalaman tinggal di Korea Selatan selama 2 tahun banyak memberikan pelajaran dan pengalaman berharga bagi kami. Kami belajar untuk hidup mandiri lepas dari uluran tangan orangtua, belajar mengurus anak sendiri tanpa bantuan pengasuh anak (jasa pengasuh anak/babysitter di Korea sangat mahal!), belajar survive di tengah masyarakat yang berbeda budaya & agama, dll. Pada awalnya, semuanya terasa berat. Akan tetapi lama kelamaan kami mulai terbiasa, dan segala perasaan nelangsa jauh dari tanah air terobati dengan pengalaman baru bermain salju di kala musim dingin, menyaksikan bunga sakura merekah tatkala musim semi, dan menikmati pemandangan daun-daun pepohonan berganti warna ketika musim gugur. Bagaimana dengan musim panas..? Ssstt.. itu hanya cowo-cowo saja yang tahu.. hehehehe... :D

Berikut ini adalah beberapa foto moda transportasi umum di Korea, apartemen kami, dan juga beberapa tempat wisata di Seoul.

image
Bus Intra-city Seoul



image
Di dalam bus intra-city Seoul



image
Seoul Metro Subway


image
Di dalam Seoul Metro Subway


image
Taksi Seoul



image
Stasiun Seoul Metro Subway


image
Rombongan pertama GS E&C Batch 7 Maret 2011


image
Apartemen Daelim Acrotel, tempat tinggal kami selama 2 tahun di Seoul
image
Jeongja Street - tempat hangout di sekitar apartemen kami, ada banyak coffe shop & restoran bagus & nyaman



image
Seoul Namsan Tower




image
Seoul Namsan Tower Complex



image
Nami Island - tempat shooting Winter Sonata


image
Gyeongbokgung Palace


image
Seoul Land



image
Suasana taman di dekat apartemen ketika winter


image
Bermain ski bersama rekan2 Samsung E&C


4 comments:

  1. Hallo kak mau nanya
    Jam operasional Subway di seoul dari jam berapa sampai jam berapa ya ? Thanks before

    ReplyDelete
  2. wahh tempat-tempat di korea bersih ya, bikin nyaman..

    ReplyDelete
  3. Itu pakai jenis visanya apa yah kalau untuk kerja yang profesional?syaratnya apa aja?

    ReplyDelete